Senin, 04 Desember 2017

STUDI PERKEMBANGAN

Studi Perkembangan
Oleh
Kokom Komariah

A.      Pengertian Studi Perkembangan
Studi perkembangan adalah salah satu studi yang memberikan informasi penting bagi para peneliti di bidang pendidikan mengenai perkembangan intelektual, emosional, dan perkembangan sosial siswa. Melalui studi perkembangan ini peneliti dapat memperoleh informasi mengenai progresifitas kemampuan belajar siswa, perkembangan kualitas pembelajaran. Studi ini mempelajari secara intensif latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan suatu obyek. Tujuan studi ini adalah untuk menyelidiki pola dan tahap urutan pertumbuhan dan atau perubahan dalam fungsi waktu.
B.      Contoh Kasus dalam Studi Perkembangan
Contoh penelitian ini adalah mendeskripsikan perkembangan bahasa anak/ siswa (perkembangan penguasaan fonem, morfem, kata, tatabahasa, dan perkembangan keterampilan berbahasanya). Contoh lain:
1.       Studi mengenai perkembangan tingkah laku anak umur 0 - 10 tahun ·
2.       Studi mengenai pengaruh bantuan dana IDT pada peningkatan perekonomian pedesaan
3.       Studi mengenai pengaruh kepesertaan program KB terhadap penekanan angka kematian
4.       Studi tentang laju pertumbuhan anak dari usia 3 tahun sampai 5 tahun. ·
5.       Studi mengenai sifat-sifat dan laju pertumbuhan anak balita, remaja dan dewasa
C.      Teknik-Teknik dalam Studi Perkembangan
a.       Longitudinal
Metode longitudinal termasuk dalam bagian dari studi kasus, metode ini adalah jenis khusus pengamatan. Tugasnya adalah untuk menentukan penyebab dari individu ke dalam perubahan yang terjadi pada satu orang, atau individu yang berbeda atau untuk berbagai kelompok masyarakat. Pendekatan ini dianggap sebagai satu ideal untuk pengembangan psikologi/konseling yang dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari perubahan-perubahan yang terjadi dalam manusia, dimana perilakunya tergantung pada usianya. Penggunaan metode longitudinal berkaitan erat dengan pertumbuhan pembangunan psikologi. Memang, ada banyak biografi dan jurnal di mana perilaku anak-anak digambarkan dalam proses pembangunan mereka. Metode longitudinal secara luas digunakan dari 1916, ketika testology muncul.
Dalam rangka untuk menerima data dengan bantuan pendekatan longitudinal beberapa tes, kuesioner, metode observasi digunakan. Sisa jarak antara pengukuran longitudinal tergantung pada periode kehidupan yang diselidiki. Sebagai contoh, untuk orang dewasa seminggu yang sangat singkat waktu, sedangkan untuk seminggu bayi adalah periode yang sangat besar. Pendekatan longitudinal adalah pendekatan dalam studi kasus penelitian yang dilakukan dengan cara menyelidiki anak dalam jangka waktu yang lama, misalnya mengikuti perkembangan sesorang dalam jangka waktu tertentu, seperti selama masa kanak-kanak atau selama masa remaja. Dengan pendekatan ini diteliti beberapa aspek tingkah laku pada satu atau dua orang yang sama dalam waktu beberapa tahun. Dengan begitu akan diperoleh gambaran aspek perkembangan secara menyeluruh. Dalam teknik ini, sampel yang sama dipelajari sejak jangka waktu tertentu. Menurut Ubaidat et all pada teknik ini peneliti dapat memilih sekelompok dari individu-individu dan mengikuti perkembangannya dalam usia yang berbeda. Selanjutnya Ubaidat, et all memberi contoh sebagai berikut.
Apabila peneliti akan mengkaji perkembangan bahasa anak pada usia antara dua tahun sampai lima tahun, maka dia melakukan hal-hal berikut:
a.       Memilih beberapa anak yang berusia dua tahun
b.       Mengamati kosa kata yang dimiliki oleh anak pada usia tersebut
c.        Melakukan pengamatan secara kontinyu terhadap perkembangan bahasa mereka sampai enam bulan dan setahun, dan demikian seterusnya sampai anak tersebut berusia lima tahun.
d.       Mencatat hasil pengamatan dalam tabel tertentu yang berisi tentang usia anak dan jumlah kata yang dikuasai anak.
e.        Menyimpulkan hasil temuan ·
1)       Keunggulan Teknik Longitudinal:
1.       Metode ini menghasilkan suatu temuan yang detail, mendalam, dan dilakukan secara intensif. Sementara itu,
2.       Sampel lebih sedikit, sehingga memungkinkan untuk melakukan analisa terhadap pertumbuhan dan perkembangan setiap individu. •
3.       Memungkinkan mengetahui gangguan-gangguan dalam perkembangan, baik secara pribadi maupu dalam kelompok.
4.       Memungkinkan melakukan analisa terhadap hubungan antara proses pertumbuhan, baik aspek kematangan maupun pengalaman, karena data yang diperoleh berasal dari anak yang sama.
5.       Memberikan kesempatan untuk menganalisa efek lingkungan terhadap perubahan tingkah laku dan kepribadian.
2)       Kelemahannya:
1.       Membutuhkan waktu yang yang lama dan biaya yang besar.
2.       Memerlukan banyak peneliti yang kemungkinan memiliki pengalaman yang berbeda-beda.
3.       Kemungkinan terjadinya gangguan dalam selang waktu penelitian yang sedang dilakukan, misalnya bila orang pindah tempat atau meninggal.
b.       Metode cross- sectional
Pendekatan Cross-sectional adalah suatu pendekatan yang dipergunakan untuk melakukan studi kasus penelitian terhadap beberapa kelompok anak dalam jangka waktu yang relative singkat. Dalam pendekatan ini penelitian dilakukan terhadap orang-orang atu kelompok orang dari tingkat umur yang berbeda-beda. Suatu studi kros-sektional yang umum dapat mencakup sekelompok anak berusia 5 tahun, 8 tahun, dan 11 tahun; kelompok lain dapat mencakup kelompok anak remaja dan orang dewasa, berusia 15 tahun, 25 tahun dan 45 tahun. Kelompok-kelompok yang berbeda tersebut dapat dibandingkan dalam halkeberagaman variable terikat, sepeti IQ, memori, relasi teman sebaya, kedekatan dengan orang tua, perubahan hormone, dan lain-lain. Semua ini dapat dilakukan dalam waktu yang relative singkat. Dengan mengambil kelompok orang dari tingkat umur yang berbeda ini akhirnyaakan dapat ditemukan gambaran mengenai proses perkembangan satu atau beberapa aspek kepribadian seseorang.
Melalui pendekatan kros-sektionalini dapat diperoleh pengertian yang lebih baik akan factor yang khas atau yang kurang khas bagi kelompok-kelompok yang diperbandingkan. Metode ini menunjukkan perbandingan antara kelompok-kelompok orang yang berbeda menurut umur, pendidikan, pekerjaan dan aktivitas komunikasi. Tugas utama dari pendekatan penampang adalah membandingkan ujian dari berbagai usia. Perbandingan ini dapat lebih berguna dalam kasus yang membujur perbandingan jumlah kecil ujian sudah dilaksanakan. Awalnya, pendekatan cross-sectional ini digunakan untuk mempelajari phylogenesis perilaku dan aktivitas psikis. Kini ia secara luas digunakan dalam psikologi perkembangan dan mencakup banyak alasan, yaitu:
1.       Beragam tingkat perkembangan, misalnya, perbandingan organisasi psikis manusia dan primata.
2.       Berbagai periode pembangunan, misalnya anak-anak perbandingan pra - usia sekolah dengan anak-anak usia sekolah.
3.       Berbeda fase periode yang sama. Sebagai contoh, psikis perbandingan organisasi orang-orang awal dan akhir-akhir dewasa.
Selain kriteria usia ini, ada beberapa yang lain, seperti: penyelidikan mengungkap keanehan psikis menurut umur, milik profesional, kondisi kesehatan dan sebagainya. Studi kasus cross-sectional mempunyai data yang berasal dari lebih banyak subjek dan data dikumpulkan dalam waktu yang relative bersamaan. Dalam penelitian cross-sectional subjek penelitian diberi pertanyaan atau tugas yang sama dan agar data yang diinginkan dapat diperoleh, situasi penelitian atau alat pengumpul datanya dibuat sedemikian rupa sehingga data dari banyak subjek dapat terkumpul dalam waktu yang reltif singkat. Penelitian cross-sectionl ini dapat dikategorikan ke daam jenis penelitian kuantitatif karena datanya berupa data statistik yang berupa angka atau frekuensi. Subjek pada penelitian cross-sectional dibagi ke dalam beberapa tingkatan seperti tingkat lama belajar, tingkatan umur atau tingkatan kemampuan berbahasa namun data yang terkumpul diharapkan dapat menggambarkan suatu proses perkembangan kebahasaan secara utuh. Metode ini meneliti kelompok dari berbagai usia dan tingkatan pada saat yang sama. Apabila peneliti akan mengkaji perkembangan bahasa anak antara dua tahun, lima tahun, dan enam tahun, maka langkah-langkah yang harus dilakukan:
1.       Memilih kelompok anak usia dua tahun ·
2.       Memilih kelompok anak usia tiga tahun, dan kelompok yang lain (anak usia empat tahun, dan kelompok anak usia lima tahun). ·
3.       Mengukur atau menghitung jumlah kata yang dikuasai oleh masing-masing kelompok usia dan menyusunnya ke dalam tabel. ·
4.       Membuat kesimpulan tentang perkembangan bahasa anak dari usia dua tahun sampai usia lima tahun. ·
1)       Kelebihan dan Kelemahan Metode Cross- Sectional
Keuntungan utama dalam pendekatan ini adalah bahwa para peneliti tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk menunggu individu bertumbuh. Kelebihan yang dimiliki oleh metode ini adalah sampel yang diteliti dalam metode ini dari berbagai tingkatan dan cukup besar, serta waktu yang dibutuhkan dalam metode ini relatif singkat. Sedangkan kelemahannya adalah perbedaan yang secara kebetulan ada di antara sampel-sampel itu mungkin dapat membuat hasil penelitian menjadi bias, kemungkinan ada variabel luar yang menimbulkan perbedaan di antara populasi-populasi yang ditarik sampelnya, karena subjek terdiri dari berbagai tingkatan dan waktu yang digunakan relatif singkat, maka kedetailan dan kedalaman hasil dalam metode ini masih kurang. Pendekatan ini tidak memberi informasi tentang bagaimana individu berubah atau tentang stabilitas karakteristiknya. Naik turunya perkembangan dapat menjadi tidak jelas.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar